Sabtu, 11 Juli 2020

Kepasrahan

                    Diceritakan di suatu desa hiduplah 2 orang sahabat yang sejak kecil hidup selalu bersama dalam segala hal. Dengan berjalannya waktu semakin hari, semakin bulan  dan bahkan semakin tahun mereka bertumbuh semakin dewasa. Dari kedua sahabat tersebut ada perbedaan yang sungguh sangat mencolok, yang satu punya sifat segala keinginannya harus tercapai dan yang lainnya melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik, melakukan apa yang harus dilakukan, bahkan terkadang sebagian orang menganggap bahwa orang ini tergolong orang yang malas karena tidak ada inovasi atau gebrakan yang membuat orang lain merasa terkagum kagum. Pertanyaannya apakah dia tidak melakukan sesuatu untuk menghasilkan apa yang diharapkan, apakah dia tidak berusaha untuk menyelesaikannya? Bagaimana dengan yang seorang lainnya yang  selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, walaupun dengan berbagai macam cara bahkan cara cara yang tidak baik sekalipun. Saat ini sifat sifat yang demikianlah yang sedang berkembang didalam dunia ini tanpa terkecuali ditengah tengah masyarakat kita, banyak orang ingin mendapatkan sesuatu dengan berbagai macam cara, yang terpenting keinginannya tercapai bahkan tidak perduli walau harus mengorbankan dan merugikan orang lain. Jabatan, baik dalam lingkup pekerjaan maupun dalam masyarakat, kekayaan, harta benda atau materi dipakai sebagai alat untuk mendapatkan kebahagiaan, maka tidak jarang saat saat sekarang ini banyak orang karena jabatan, harta benda atau uang rela untuk mengorbankan yang lain bahkan sampai menghilangkan nyawa yang lain tak terkecuali sampai dari keluarganya sendiri. Apakah dunia ini sudah sedemikian sesaknya sehingga demi mempertahankan posisi dan kelangsungan hidupnya harus melakukan hal yang demikian?  Sebagai orang beriman kita sering meminta sesuatu kepada Tuhan entah melalui doa entah melalui bersedekah yang sebenarnya hanyalah bertujuan untuk menyuap Tuhan, memaksa Tuhan untuk meluluskan permintaan dan permohonan kita, tidak jarang pula kita juga mengekang Tuhan dengan mengarahkan Tuhan harus begini Tuhan harus begitu, malah kalau kita mau jujur mengakui bahwa kita itu lebih berkuasa dari pada Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya yang didalamnya sana ada manusia. Dia punya kehendak bebas didalam mengatur alam semesta beserta isinya, sehingga kita tidak punya hak untuk mengatur Sang penguasa Alam semesta itu.
                  Dalam kehidupan didunia ini apapun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan pernah lepas dari kuasa dan ijinNya, oleh karena itu ada baiknya bagi kita semua mendengar suaraNya bukan suara kita, memahami rencanaNya bukan rencana kita, pemikiranNya bukan pikiran kita, kuasaNya bukan kuasa kita, kehendakNya bukan kehendak kita dan masih banyak lagi, sehingga kita akan selalu dapat menyadari posisi kita yang sebenarnya, tidak menjadi tuhannya Tuhan, maka hidup kita selalu diatur dan dalam perlindunganNya. Kepasrahan adalah dasar bagi kita dalam memahami kehidupan  beriman kepadaNya. Berilah tempat serta ruang bagiNya untuk melakukan kehendakNya dalam kehidupan kita, Dia yang Adoh tanpa wangenan lan cedak tanpa senggolan itu bisa melakukan kehendakNya dengan bebas dalam rangka mengasihi juga menata hidup umatNya dengan baik dan benar sesuai dengan rencanaNya, sedangkan kita sebagai umatNya sudah diberi tanggung jawab untuk selalu berusaha, berdoa dan menyerahkan hasil baik dan buruknya kepadaNya, inilah suatu bentuk kepasrahan yang harus kita lakukan sebagai umat kepunyaanNya karena ini merupakan bentuk proses kehidupan yang harus berlangsung. Sebagai umat sangatlah mutlak kita memperhatikan perintah-perintahNya maka damai sejahtera akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaan akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Janganlah tegar tengkuk, serahkanlah dirimu kepada Tuhan serta beribadahlah kepadaNya, lakukanlah tanggung jawabmu dengan baik sesuai dengan perintah dan larangannya sehingga hidupmu layak dihadapanNya.

Kamis, 21 Mei 2020

Kesadaran

                        Dunia hari-hari ini terasa semakin hari semakin dekat dengan ketiadaan, karena semakin hari harga sebuah kehidupan semakin tiada harga. Penyebab dari semuanya ini bukanlah karena kemerosotan alam yang kita hidupi, akan tetapi disebabkan oleh keangkuhan setiap penghuni dunia ini. Banyak pernyataan dan kenyataan yang sudah menutupi pandangan dan pemahaman kita sebagai kodrat manusia. Terkadang apa yang dilakukan menurut diri sendiri untuk kebaikan dan pemenuhan karya Tuhan, namun kenyataan sesungguhnya hanya demi kebaikan diri sendiri, ketenaran diri sendiri, kepentingan diri sendiri, rasanya memang tidak mudah melakukan kebaikan yang tanpa pamrih. Apalagi seperti saat ini, dengan kenyataan yang ada, pada situasi pandemi, perjalanan hidup dibuat tidak pasti, alur yang sudah tertata menjadi berantakan, kehidupan yang digadang gadang dan menjadi harapan besar, musnah dengan hal yang tidak terduga. Kebiasaan yang dibangun oleh manusia agar semuanya terlihat luar biasa baik, berubah total menjadi berbalik tegak lurus. Apalagi komunitas yang mengatasnamakan keyakinan, dengan pemahaman yang mereka bangun untuk mendiskriditkan yang lain, untuk merendahkan yang lain bahkan untuk memberangus kebebasan yang lain, apakah masih perlu dipertahankan dalam membangun hubungan antar sesama ciptaan? Yang perlu dibangun dalam kehidupan didunia ini adalah kebersamaan bukan persamaan, namun dalam kenyataan hidup, kita lebih bangga dengan persamaan bukan kebersamaan. Kalau tidak sama berarti berbeda, kalau berbeda dianggap lawan, dan ketika sudah dianggap lawan apapun cara bahkan bisa dikatakan sebagai bermacam cara dilakukan untuk menjatuhkan lawannya itu. Ketika kebersamaan itu semakin hilang maka kepentingan kepentingan pribadi yang menjadi lebih dominan menguasai kehidupan kita. Ketaatan semakin tipis kesadaran semakin musnah dan egoisme menjadi merajalela. Peringatan peringatan yang semuanya demi kebaikan bersama menjadi terabaikan karena hawa nafsu yang terpupuk, oleh karena itu keangkuhan tumbuh semakin subur dalam diri setiap manusia. Kita bisa melihat saat ini dalam situasi pandemi, peringatan dari yang berkompeten dianggapnya sebagai penghalang, bahkan dilanggar karena yang mengingatkan adalah sesama manusia bukan Tuhan, sehingga sulit untuk dimengerti dan diterima, kenapa? Karena sudah tertutup oleh tradisi tradisi kebebasan dan gawe sak karepe dewe.
                Pada situasi seperti saat ini kita diingatkan Oleh Sang Pencipta melalui proses ini, agar kita menyadari betapa penting sebuah kebersamaan tidak memandang siapa mereka, baik yang menganggap kawan maupun lawan, maka membangun komunitas yang baru menurut manusia akhir jaman ini perlu dilakukan. Kembali kepada Kodrat Alam yang Tuhan Ciptakan adalah hal yang harus dilaksanakan. Sang Penguasa Alam Semesta menciptakan Dunia ini berangkat dari keberbedaan yang Ia bangun supaya semuanya menjadi "Prayoga linuwih" menjadi lebih baik. Kami dapat sampaikan bahwa kodrat kita adalah berbeda sejak awal penciptaan. Siang dengan malam, Bumi dengan cakrawala, daratan dengan lautan, Binatang darat dengan Binatang laut, Tumbuh tumbuhan, puncaknya adalah penciptaan manusia, manusia diciptakan terdiri dari laki laki dan perempuan. Berangkat dari sinilah maka pola dan cara berfikir setiap manusia tidak akan pernah sama, namun satu sama lain saling melengkapi. 
                  Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebagai dasar untuk melihat dan memahami dimana posisi serta tanggung jawab kita sebagai manusia dalam memaknai tentang kesadaran. Pertama, Kesadaran sebagai umat Tuhan, Manusia diciptakan oleh Allah serupa dengan gambarNya supaya manusia dapat meneladani sifat sifat Allah didalam dirinya, mengasihi, melindungi, melakukan kebaikan dalam setiap perbuatan, memperhatikan satu dengan yang lain, bukan menghancurkan satu terhadap yang lain sehingga kita dapat melakukan hukum kasih dengan benar yaitu mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (sudahkah kita melakukannya). Mengapa demikian, karena hanya Omong kosong saja jika mengatakan aku mengasihi Tuhan dengan segenap hati (apakah kita sudah mengasihi dengan segenap hati kalau masih terselip alasan alasan untuk menghindarinya), dengan segenap jiwa (apakah pola berfikir kita sudah mengarah kepada pemahaman yang diberikan oleh Tuhan dalam hidup kita), dan dengan segenap akal budi(apakah kita melakukan kasih sudah menggunakan nalar kita, maka disini bisa dicontohkan ketika seorang anak tidak menurut kepada orang tuanya dalam hal ini Bapanya, bagaimana perasaan sang bapa?) Maka mengasihi  Allah itu menggunakan nalar tidak menurut pemahamanku, akan tetapi menurut pemahaman yang Tuhan berikan. KeduaKesadaran sebagai bagian dari Bangsa, sebagai bagian dari bangsa hendaknya kita juga paham siapa diri kita dan dimana posisi kita. Sebagai pemimpin kita harus bisa menjadi pemimpin yang bisa mendampingi, menuntun, melindungi, mengayomi bahkan mengarahkan kepada hal hal yang seturut dengan kehendak Tuhan. Sebagai warga masyarakat hendaknya kita juga patuh kepada pimpinan dan aturan aturan yang berlaku di negeri ini, sehingga kita tidak bertentangan dengan pemerintah. Bukankah bangsa dan negara ini boleh berdiri juga karena kehendak dan rencana Tuhan, begitu juga para pemimpin juga dipilih oleh Tuhan melalui masyarakat, sehingga sudah sewajarnya kita tunduk kepada peraturan peraturan yang ada, karena peraturan dibuat semua untuk kebaikan supaya proses kehidupan bermasyarakat menjadi lebih baik. Namun yang sering terjadi kita sering  melanggar  peraturan  untuk kepentingan pribadi, bahkan tidak jarang mencari celah aturan tersebut untuk pemuas nafsu keduniawian kita.
              Ada Pepatah Jawa Suro Diro Jaya ningrat lebur dening pangastuti (Keserakahan, keangkuhan, kesombongan, arogansi, sewenang wenang akan hancur oleh kebaikan) hal ini akan terus berlaku selama dunia masih ada. Hukum sebab akibat juga masih turut menghiasi perjalanan kehidupan manusia, sehingga disinilah kita diperhadapkan akan sebuah kesadaran, yang semuanya akan membawa kepada kebaikan bersama. Maka kewaspadaan dalam membaca hidup, situasi dan kondisi hendaknya menjadi prioritas kita, sehingga tanggung jawab sebagai manusia dapat kita lakukan, maka mari kita berpedoman pada :
SD          = Sadar Diri (siapa kita)
SMP        = Sadar Mengenai Posisi (dimana kita)
SMA       = Sadar Mengenai Akibat (apa resiko yang akan kita tanggung)
Sehingga hidup kita semakin hari menjadi semakin bermakna bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat (kampung atau dalam persekutuan), bahkan dalam bermasyarakat dan bernegara. Menjadi Umat yang terpilih adalah harapan bagi setiap manusia, dengan kesadaran yang tinggi siapa sesungguhnya kita, inilah yang menuntun kita kepada kehendak dan rencanaNya untuk apa kita diciptakan, jangan hanya menjadi isen-isene ndonya namun Jadilah Manusia yang berguna bagi diri sendiri, lingkungan bangsa dan negara terlebih lagi berguna bagi kemuliaan Tuhan dan karya Tuhan menjadi lebih nyata didalam kehidupan kita.

Jumat, 17 April 2020

Memahami Sebuah Pesan

Dalam dunia yang semakin modern ini banyak aplikasi, aplikasi pesan yang tertulis didalam HandPhone saudara, ada yang namanya Whatsapp, Mesenger FB, ada yang namanya Tweter, Instagram dan masih banyak lagi. Dari banyak aplikasi ini membuka pemahaman dan pergaulan kita semakin hari semakin luas, bahkan berita berita dari berbagai macam penjuru dunia yang dulu kita tidak tahu, namun sekarang dengan sekali tombol kita bisa mengetahui berita berita tersebut. Terkadang berita berita tersebut membuat kita bersukacita namun tidak jarang mumbuat kita menjadi takut. Ada yang berisi menyejukkan ada pula yang isinya membakar hati kita, apalagi kalau tidak senang dengan keadaan yang tidak kita harapkan dan tidak sesuai dengan hati kita, maka dengan sekali tombol kita juga akan bisa meluapkan ketidaksenangan kita, dan seterusnya.
Namun dari banyak applikasi ini ada aplikasi yang mungkin kita buka padaa saat kita butuhkan saja. Kalau applikasi yang disampaikan diatas bisa 1 hari lebih dari 3x seperti orang yang sakit dan harus minum obat sesuai dengan anjuran maka applikasi yang kami sebutkan diatas porsinya juga begitu, bahkan ketika kita membuka HP kita ini yang pertama yang kita buka. Applikasi ini yang akan kita bicarakan ini juga applikasi yang tidak kalah canggih dan hebatnya, namun tidak semua orang memperhatikannya, bahkan terkadang ada applikasi didalam HPnya namun tidak pernah dibuka, bahkan dibuka pas kalau ingat, nama Applikasi ini adalah ALKITAB. Dulu banyak orang Kristen malu riwa riwi bawa Alkitab dengan berbagai macam alasan : ribet, berat, takut dikatakan sok suci, bahkan ada yang nadanya mengejek, kayak pendeta ae, maka dalam perkembangan kemajuan tehnologi sebenarnya kita juga diuntungkan bawa Alkitab tidak berat bahkan kidung puji pujian yang kita pakai ada didalam situ dalam satu applikasi, bukankah ini sudah mengikis beberapa pemahaman pemahaman yang  dulu membuat kita “Malu” membawanya, sekarang kita bebas membawa kemana mana. Hal yang berikutnya adalah bagaimana kita membaca pesan pesan yang ada didalamnya, hal ini akan berhubungan seberapa sering kita membukanya, ada yang membuka kalau pada saat ada kegiatan ibadah ibadah, baik pada saat ibadah keluarga, syukur, atau mungkin digereja
Pada saat ini kami mengajak pembaca untuk membaca satu pesan pada salah satu Applikasi tersebut yang jarang sekali kita buka pada Yohanes 20 : 21 yang demikian Maka kata Yesus sekali lagi “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Ketika kita memutuskan diri untuk mengikut Yesus ada hal hal yang perlu kita lakukan didalam hidup ini, yaitu kita adalah sebagai utusan utusan Kristus, sebagai saksi saksiNya yang hidup, apakah kita menyadari itu? Beranikah kita menjadi saksi saksi yang hidup dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi saksiNya? Dan seterusnya, banyak pertanyaan yang harus kita jawab didalam hidup ini setelah kita membaca pesan tadi. Apakah ketika Dia mengutus kita dibiarkan berjalan sendirian, tentu saja tidak seperti kepada para murid Dia juga akan memberikan Roh Kudus kepada kita supaya kita dimampukan untuk menghadapi segala tantangan dan hambatan dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang utusan. Kembali lagi pertanyaan yang kita tujukan kepada diri kita sendiri “Gelem apa Ora nglakoni” . Satu pemahaman yang perlu kita tanamkan didalam pikiran dan perasaan kita adalah ketika Tuhan mengutus siapapun untuk melaksanakan karyaNya dalam dunia tentulah sudah menyiapkan Ubo rampe yang akan dipakai dalam melakukan tugasnya itu. Jadi tidak akan pernah Dia meninggalkan dan membiarkan kita sendirian dalam melaksanakan tanggung jawab yang kita emban, kalaupun toh yang kita lalui dan kita hadapi penuh dengan rintangan dan hambatan bahkan beresiko tinggi pastilah semuanya tidak akan lepas dari skenario yang direncanakan olehNya. Yang sering terjadi dalam kehidupan kita adalah betapa lemahnya cara pengenalan kita terhadap Tuhan, kita merasa ketika kita menjadi anak anak Tuhan semuanya akan beres, semuanya akan enak, semuanya akan nyaman. Apabila pola dan cara berfikir kita demikian maka siap siaplah akan mendapatkan kekecewaan. Kita tahu bahwa  Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu berwarna biru, bunga-bunga mekar tanpa layu, kesukaan tanpa air mata. Tetapi Tuhan menjanjikan kekuatan dan kemampuan hari demi hari. Percayalah...! Tuhan menyertai dan memberkati kita sekalian.  Maka selamat menjalankan tugas pelayanan sampai selesai.

Kamis, 09 April 2020

MAWAS DIRI

Hari ini adalah hari hari dimana menjelang peringatan Jum’at Agung dan tiga hari berikutnya adalah hari raya Paskah. Berbicara tentang kematian dan  kebangkitan mungkin kita juga tidak lupa juga dengan kelahiran yang biasa kita peringati dengan Natal. Inilah sebenarnya yang akan terjadi bagi setiap orang yang percaya dan bersandar kepadaNya, Tuhan Yesus sudah memberikan contoh perjalanan hidup sebagai manusia. Dalam perjalanan hidup tidaklah mulus mulus saja bahkan hambatan dan rintangan selalu ada, bahkan hal ini merupakan tantangan yang perlu dan harus dihadapi. Dia sudah memberikan teladan yang begitu luar biasa, hambatan rintangan bahkan kesengsaraan Dia hadapi dengan ketegaran, cobaan dialamiNya, siksaan Dia rasakan, penderitaan diterimaNya, kematian dihadapiNya dengan penuh kesadaran dan penyerahan. Inilah sesungguhnya sebuah perjalanan hidup setiap manusia yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita lalui.
Sebelum kita menatap kedepan, dan melihat masa depan kita masing masing dalam hal kehidupan maupun dalam hal keimanan, ada baiknya kita meneliti sebentar kehidupan kita yang sudah kita lewati bersama sama. Apakah ketika ada permasalahan, hambatan bahkan rintangan kita menghadapi dengan semboyan “ rawe rawe rantas, malang malang putung” artinya tidak peduli seberapa besar dan seberapa berat resiko yang akan ditanggung maka hambatan rintangan harus selalu dihadapi? Atau,  malah sebaliknya justru malah golek slamete lan golek untunge dewe? Kepedulian simpati bahkan empati sangat jauh dari hidup kita bahkan tak pernah masuk dalam kesadaran kita. Dalam kehidupan, yang dicari hanyalah keuntungan diri sendiri tidak memperdulikan orang lain, sing penting aku enak, sing penting aku kepenak. Dalam hal keimanan, dalam hal pelayanan bahkan dalam persekutuan, pemahaman pemahaman seperti ini sering membuat diri kita semakin jauh dari sang Pencipta alam semesta. Sebagai warga jemaat maunya selalu dilayani tidak mau ambil bagian dalam melayani sesama, sebagai pelayan kita justru sering merasa jabatan sebagai pelayan merupakan sebuah prestige (gengsi) yang patut dipertahankan dan dibanggakan tanpa mau berbuat yang semestinya sebagai seorang pelayan. Justru malah yang terjadi, kita sering minta dilayani dari pada melayani, menghakimi dari pada mendampingi, membiarkan dari pada merengkuh yang pada akhirnya sebutan pelayan hanyalah sebuah jabatan yang tiada arti. Sebagai pengikut Yesus yang disebut Kristus, sudah selayaknya kita mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh SOKO GURU kita, bagaimana kita membangun sebuah relasi baik dengan manusia maupun dengan Tuhan Sang Pencipta semesta, melakukan tugas dan tanggung jawab kita terhadap apa yang kita lakukan dan yang sudah dilimpahkan kepada kita, baik secara pribadi maupun dalam persekutuan bahkan sebagai bagian dari bangsa ini. Apakah yang sudah kita lakukan sampai saat ini sudah menyukakan hati Tuhan atau malah sebaliknya  mendukakan hatiNya. Kita sudah ditebus oleh darahNya yang kudus (melalui peristiwa penyaliban), maka hiduplah sebagai manusia yang sudah ditebus karena kita sudah mengambil pilihan mengikut Dia, maka apapun resikonya kita harus siap, sebagai orang yang sudah diselamatkan hendaknya hidup sebagai orang yang telah selamat, karena keselamatan yang sesungguhnya terjadi dua arah, bukan searah, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga”(Mat 7:22). Sebagai orang yang beriman kadang kita tidak menyadari semuanya ini, bahkan ada beberapa orang yang beranggapan bahwa ke gereja satu bulan cukup satu kali, melakukan kegiatan pelayanan hanyalah pekerjaan sampingan, karena gereja tidak memberikan keuntungan, maka akibatnya ketika melakukan sesuatu untuk gereja untuk persekutuan yang terlintas dalam benaknya adalah aku engko oleh pira, aku engko oleh apa sehingga berkat yang selalu dilimpahkan dan dinikmati setiap hari dianggapnya hanyalah sebuah rutinitas tidak dianggap sebagai berkat juga sebagai mujizat, dan seterusnya dan sebagainya.
Maka dengan menghayati perjalanan hidup yang sudah dialami oleh Tuhan Yesus, kita sudah paham betapa tidak mudahnya perjalanan hidup setiap manusia. Oleh karenanya ketika kita menyadari hal yang demikian sudah harus menata diri supaya ketika tugas dan tanggung jawab di dunia selesai maka mahkota kehidupan pasti kita peroleh, maka setiap orang akan bisa mengatakan “Aku telah mengakiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan hakim yang adil pada hariNya. Tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya” (2 Timotius 4 : 7 - 8). Hidup adalah sebuah kesempatan untuk berbuat yang berguna bagi sesama terlebih kepada Tuhan. Oleh sebab itu marilah kita manfaatkan sebaik baiknya selama masih ada kesempatan itu. Sebagaimana dalam lagu yang seringkali kita dengarkan demikian:
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-sia kan waktu yang Tuhan b'ri
Hidup ini harus jadi berkat
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat
Kiranya kita semua dimampukan bukan hanya untuk menyanyikan lagu tersebut. Akan tetapi mewujudkan syair lagu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam kehidupan berkeluarga, bergereja, bermasyarakat serta berbangsa dan bernegara. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Minggu, 22 Maret 2020

Refleksi diri

        Hari-hari ini kita disibukkan dan dihadapkan dengan situasi yang memaksa kita untuk waspada. Melalui sikap waspada inilah kita berharap dapat melalui masalah yang sedang kita hadapi bersama dengan sukacita, berani dan kerjasama semua pihak. Dalam kehidupan bergereja, saat ini kita juga memasuki masa Pra Paskah untuk mengingat, mengenang, menghayati karya agung Tuhan Yesus Kristus bagi umat manusia. Masa Pra Paskah juga sebagai sarana untuk intropeksi diri. Salah satu caranya adalah dengan berpuasa. Bukan hanya berpuasa sekedar lips service saja, namun janji itu perlu direalisasikan dengan ketaatan serta kesungguhan sehingga memang harus dilaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal berpuasa, terkadang kita hanya sekedar berkata "saya berpuasa" (berpuasa dalam artian menahan kebiasaan kebiasaan yang bersifat menuruti keinginan daging dan demi kepuasan diri sendiri) akan tetapi dalam prakteknya sama saja dengan kebiasaan sehari hari. Dengan sebuah keadaan atau situasi yang tidak nyaman, Tuhan mengajarkan kita supaya antara pikiran dan kenyataan itu harus sama atau sesuai. Oleh karena itu dalam menghayati masa Pra Paskah ini, mari kita menoleh kebelakang seperti pujian PKJ 244 (Sejenak aku menoleh) atau KPJ 395 (Sawatara aku noleh) untuk melihat perjalanan hidup yang sudah kita lalui. Begitu banyak kasih Tuhan yang sudah kita peroleh yang sering membuat kita tercengang atau tertegun. Jalan yang sudah kita lalui penuh liku dan kadang tanpa terang, namun Tuhan selalu membimbing kita dengan kasihnya sehingga hati kita menjadi tenang. Hal yang demikian bisa kita dapati dan kita terima ketika hidup dan mati kita disandarkan hanya kepadaNya.
         Dalam Minggu Pra Paskah ini kita juga dibimbing oleh Firman Tuhan, sesuai dengan leksionari, rasanya bukan sebuah kebetulan, akan tetapi semua adalah rencana Tuhan yang indah. Pada awal bulan setelah Rabu abu kita dipertemukan dengan firman yang mengkisahkan bagaimana Tuhan yesus dicobai oleh Iblis serta bagaimana Dia menghadapi dan melawannya dengan jawaban Ada tertulis "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (ini tentang makanan untuk hidup/kehidupan) yang ke dua "Janganlah mencobai Tuhan Allahmu"(berkenaan dengan hal kekuasaan/kemashuran/keternaran), yang ketiga "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti" ( ini berhubungan dengan hal keduniawian). Ternyata dari melawan godaan yang dalam hal ini diberi label Cobaan, kita sudah diajari oleh Tuhan Yesus bagaimana mengantisipasinya, kemudian pada minggu berikutnya kita juga diingatkan bagaimana menjalani hidup yang sesungguhnya seperti sudah dicontohkan Nekodemus, bagaimana memaknai hidup yang benar ternyata salah satunya adalah selalu belajar dan selalu memperbaiki diri dan kehidupannya apapun posisinya, kedudukannya, keadaannya, kekayaannya, sehingga hidup akan semakin berkenan dihadapan Tuhan. Pada Minggu berikutnya Tuhan kembali memberikan contoh bagaimana memperbaiki hubungan dengan sesama terlebih kepada Tuhan, bagaimana menyampaikan kabar sukacita kepada orang lain dan bukan dinikmati sendiri yang pada akhirnya malah tidak paham dengan apa yang diharapkan oleh Tuhan Sang Khalik Alam semesta. Banyak orang yang sombong rohani sehingga hidupnya merasa lebih baik, lebih diberkati Tuhan, lebih suci dan sebagainya, sehingga menganggap yang lain tidak selevel dan patut direndahkan, apabila demikian, apakah artinya Tuhan didalam hidup kita, bukankah Dia itu baik untuk semua orang lalu bagaimanakah dengan kita? Dan siapakah kita? Ternyata pada hari ini kita ditunjukan oleh firman Tuhan yang terdapat pada Yohanes 9 : 1 -41 bagaimana kita mencari hal hal yang sudah biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari hari, yaitu mencari cari kesalahan orang dan akibat akibatnya, bahkan ketika seseorang mengalami penderitaan atau kemalangan malah yang terjadi kita menghubung hubungkan dengan apa yang sudah dilakukan, bahkan tidak jarang pula malah dihubung hubungkan dengan perilaku keluarganya. Begitu juga yang terjadi waktu itu, para murid murid menanyakan sebuah keadaan yang diyakini sebagai akibat kesalahan dan dosa, yaitu orang buta sejak lahir. Ternyata para murid itupun juga tidak paham akan kehadiran Tuhan Yesus kedalam dunia ini, sehingga pola pikir yang sudah turun temurun itu masih melekat dalam dirinya, bukan bagaimana mencari solusi untuk orang itu, maka Jawaban Tuhan Yesus :"bukan dia dan juga bukan orang tuanya, tetapi karena pekerjaan pekerjaan Allah harus dinyatakan didalam dia". Ketika kita menyatakan diri sebagai pengikut Kristus, maka sudah seharusnya kita juga merubah pola pikir kita seperti yang sudah dicontohkan oleh Tuhan kepada kita. Sudah waktunya kita percaya dengan sepenuh hati dan sungguh sungguh. Jangan percaya kepada Tuhan pada saat keadaan yang sudah mendesak atau menghimpit hidup kita. Namun BERIMANLAH kepada Dia dengan benar dalam segala masa maka kita layak menjadi anak anak terang. Pada akhirnya kita harus yakin padaNya karena Dia adalah Sang Penguasa alam beserta isinya. Apalagi dengan yang terjadi saat ini, dengan menyebarnya Covid-19 yang kita hadapi. Kita harus yakin betul bahwa Dia akan selalu menyertai kita yang selalu percaya akan jamahan dan mujizatNya. Jangankan sampar (wabah/covid19)/ sakit penyakit yang membuat kita saat ini berada pada rasa takut, cemas, bimbang dan kuatir, bahkan mautpun bisa dikalahkan. Hal ini seperti yang akan kita renungkan Minggu depan seperti yang dialami oleh Lazarus. Dengan kuasaNya Dia dapat melakukan sesuai dengan apa yang diinginkanNya.
          Pada akhirnya marilah kita introspeksi diri, sudahkah kita ini menjadi milikNya yang mengenalNya dengan benar, atau sekedar dari pada tidak beriman atau beragama sehingga yang kita alami dan kita lakukan selama ini adalah sebuah rutinitas belaka kalau demikian tak ubahnya dengan isen-isene donya urip mung kanggo jangkep jangkepan, hidup sia-sia. Dia sudah mengajarkan bagaimana menghadapi cobaan.  Belajar mengenali diri sendiri dalam menjalani hidup, membangun sebuah relasi baik kepada sesama terlebih kepada Tuhan dengan jalan tidak mencari kesalahan dan menghakimi akan tetapi mencari solusi, maka pada akhirnya kita dapat merasakan kuasa Tuhan didalam memahami hidup dan kehidupan kita. Dengan keadaan yang kita hadapi saat ini mari kita berfikir jernih dan mencari solusi bersama sama, tidak saling menghakimi, tidak saling menghujat, karena keadaan ini tidak akan selesai dan terselesaikan dengan cara seperti itu, bahu membahu dengan pihak terkait, mematuhi anjuran baik dari pemerintah, gereja dan lingkungan adalah solusi terbaik, berdoa dan berserah agar Tuhan segera turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang. Rasul Paulus juga mengingatkan kepada kita semua bahwa” Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13).

Selasa, 12 November 2019

Kegiatan Jemaat Mojoagung

Bulan Nopember 2019
1. Tanggal 02 Nopember 2019 pukul 16.00 persiapan Ibadah Pelepasan Pendeta Priyo Utomo dari  Jemaat Mojoagung.
2. Tanggal 03 Nopember 2019 pukul 17.00 Ibadah Pelepasan Pdt.Priyo Utomo, M.Min
3. Tanggal 05 Nopember 2019 pukul 08.00 Boyong Barang ke Kertosono
4. Tanggal 06 Nopember 2019 pukul 15.00 Boyong keluarga Pendeta Priyo Utomo ke GKJW Jemaat Kertosono.
5. Tanggal 27 Nopember 2019 diperkirakan pukul 15.00 Boyong barang dan Boyong Keluarga Pendeta Agus Supriyono, S.Si dari jemaat Trenceng ke Jemaat Mojoagung.
6 Tanggal 30 Nopember 2019 Persiapan Ibadah Pelantikan Pdt.Agus Supriyono, S.Si pukul 16.00

Bulan Desember 2019
7. Tanggal 01 Desember 2019 pukul 16.00 Ibadah Pelantikan Pdt.Agus Supriyono, S.Si sebagai Pendeta Baku di Jemaat Mojoagung.
8. Tanggal 08 Desember 2019 pukul 08.00 di Induk dan 17.00 di Pepanthan Babatan Perjamuan Kudus Adven
9. Tanggal 24 Desember 2019 pukul 18.00 Ibadah malam Natal
10. Tanggal 25 Desember 2019 pukul 08.00 Ibadah Natal
11. Tanggal 25 Desember 2019 pukul 17.00 Ibadah perayaan Natal di Induk Mojoagung
12. Tanggal 27 Desember 2019 pukul 18.00 Ibadah perayaan Natal di Pepanthan Babatan

Sabtu, 05 Oktober 2019

Iman Yang Hidup Di Tengah Tantangan

 Lukas 17:5-10

        Manusia dalam kehidupanya ketika menghadapi tantangan, minimal untuk bisa bertahan menghadapi tantanganya maka dibutuhkan pertahanan yang dayanya sama besar dengan tantangan itu. Jika ingin mengalahkannya maka harus memiliki daya atau tenaga yang lebih besar dari tantangan yang dihadapi. Permohonan para rasul kepada Tuhan Yesus agar ditambah iman mereka cukup beralasan, bila kita memperhatikan  dalam perikop ini. Ada dua hal besar yang melatar belakangi permohonan itu. Yaag pertama realita bila penyesatan pasti akan selalu ada. Dengan demikian siapapun bisa menjadi penyesat atau menjadi orang yang disesatkan. Yang kedua tugas untuk memberikan pengampunan dengan tanpa batas. Menjalani hidup dengan kenyataan akan selalu terjadi penyesatan dan juga mengemban mandat untuk tidak jemu mengampuni, bagi para rasul bukan perkara mudah Sehingga dibutuhkan modal iman yang lebih. Namun apa jawab Tuhan Yesus terhadap permohonan dan pengharapan dari para rasul. Ketika para rasul ingin memiliki iman yang lebih besar supaya bisa menghadapi bahkan mengalahkan tantangan yang besar yaitu penyesatan dan juga memberikan pengampunan. Pengharapan untuk ditambah imannya supaya bisa memiliki iman yang besar, ternyata oleh Tuhan Yesus dijawab dengan mengatakan iman sebesar biji sesawi. Dari permohonan para rasul dan jawaban Tuhan Yesus ini menunjukkan, kalau para rasul beranggapan untuk menghadapi tantangan harus dengan kuantitas iman tetapi Tuhan Yesus justru menekankan kualitas iman. Dan kualitas iman itu terlihat dari cara kerjanya. Biji sesawi adalah jenis biji-bijian yang tergolong jenis biji yang kecil, tetapi mana kala biji sesawi sudah tumbuh menjadi pohon sangat berguna bagi kehidupan yang lain.
            Daya kerja dari iman yang berkualitas dari kelanjutan penjelasan Tuhan Yesus memuat dua hal. yang pertama iman yang berkualitas mampu mengerjakan hal yang secara nalar manusia acap kali dipandang tidak mungkin, atau hal yang tidak terduga sama sekali. Yang berikutnya iman yang berkualitas akan menghantarkan seseorang pada kesadaran bila dirinya adalah pelayanan bagi Tuhan melalui kehidupan sesama, dan pelayanannya tidak pernah disertai motifasi untuk beroleh imbalan.
Tantangan jaman tidak bisa dielakkan, jaman yang selalu berubah membawa pengaruhnya sendiri. Dan pengaruh perubahan bisa membuat kita terseret dalam kesesatan di dalamnya. Kalau dulu mempercakapkan kehidupan orang lain dianggap tabu, sekarang kehidupan pribadi seseorang seakan sudahjamak untuk dibeber- beberkan, contoh infotemen. Dengan itu kita menganggap mempergunjingkan orang juga menjadi wajar.
        Melalui hal ini kita diajak untuk memperhatikan sampai sejauh mana kehidupan kita dengan isi Injil. Demikian juga dalam perjamuan kudus Oekumene satu sisi perjamuan ini memberikan pemeliharaan atas iman dan keselamatan kita, dan sisi lain kita harus mawas diri hal kualitas iman yang kita miliki. Apakah iman kita sudah menjelma menjadi pelayanan kepada sesama bagi kemuliaan Tuhan, sekalipun tantangan datang silih berganti? atau kita masih melayani diri kita sendiri?

Sabtu, 28 September 2019

Dua Macam Dasar

Lukas  6 : 46 - 49

Kita akan melanjutkan pendalaman Firman Allah tentang dasar atau landasan. Pokok ini sangatlah penting bagi kita sebagai jemaat Tuhan. 

       Mengapa kamu berseru kepadaKu, Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan perkataanKu serta melakukannya Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. orang itu menggali dalam dalam dan meletakkan dasarnya diatas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat di goyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barang siapa mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya ia sama dengan seorang yang mendirikan rumahdiatas tanah tanpa dasar. Ketika  banjir melandanya, rumah itu segera roboh dan hebatlah kerusakannya.

a. Mendalami Firman Secara Mendalam
          Ada dua orang  yang sedang membangun rumah masing masing di sebidang lahan yang terdiri dari campuran pasir dan lempung. Dilahan yang berupa campuran pasir dan lempung ini, terdapat lapisan batu yang terletak agak jauh di bawah. Dia harus menggali dalam dalam sebelum bisa mencapai lapisan batu dibawah. Dia terus menggali dan tidak henti hentinya menggali sampai suatu hari ketika sekopnya menghantam lapisan yang keras dan dia tahu bahwa dia telah sampai dilapisan batu itu. Apa artinya "Menggali dalam dalam?" Sebuah prinsip rohani yang sangat penting muncul di perikup ini. Apakah maksud dari menggali dalam dalam ini? Hal apa yang sebenarnya dilakukan oleh si orang pertama itu? Jika anda tidak tahu apa yang sedang dia kerjakan, maka anda seperti orang kedua yang membangun rumah instannya. Tahukah anda apa yang sedang dikerjakan oleh kedua orang itu? Prinsip apa yang terungkap dari perumpamaan ini? Yesus sedang berkata bahwa arti kata "Menggali dalam dalam" itu adalah mengerjakan semua firman Allah yang telah Yesus sampaikan. Ini adalah prinsip pelaksanaan perintah Allah. di Lukas 11:28, Yesus berkata : "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." Prinsip ini menegaskan bahwa hanya dengan cara inilah saudara bisa mengenal Tuhan, menjalin hubungan denganNya.

b. Menjalin Hubungan Dengan Tuhan Dengan Melakukan KehendakNya
            Penjelasan tentang pentingnya prinsip ini. Pokok persoalannya tidak sesederhana perumpamaannya. Mengapa Tuhan begitu nyata bagi sebagian orang tetapi terasa begitu asing bagi sebagian lainnya? Di Ibrani 11 : 27 Musa digambarkan sebagai orang yang "bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan." Musa bisa melihat yang tidak kelihatan. Menggali dalam dalam itu berarti menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga. Sangat besar pengorbanannya. Di titik inilah kebanyakan orang Kristen gagal. Kedua orang didalam perumpamaan ini sama sama ingin membangun rumah, membangun kehidupan mereka diatas landasan tersebut, tetapi yang satu bersedia menggali dalam dalam, sedangkan yang satunya lagi tidak. Keduanya sama sama bersedia mendengarkan Firman Tuhan, sama seperti kita semua, maka yang harus kita jawab dalam kehidupan kita adalah seperti yang mana? yang menggali dalam dalamkah atau yang mendasarkan hanya yang instan saja, selamat merenungkan.

Kamis, 19 September 2019

Hidup Dalam Kesetiaan Yang Sejati

Hidup Dalam Kesetiaan Yang Sejati 

 Amsal 17:1-28


             Kata “kesetiaan” berasal dari kata dasar “setia” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat; tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan seterusnya); berpegang teguh (dalam pendirian, janji dan sebagainya). Jadi, kesetiaan adalah suatu sikap mental dan karakter atau sifat yang teguh berpegang; taat dan patuh kepada janji yang telah diikrarkan bersama. Hidup dalam kesetiaan yang sejati merupakan sikap mental positif yang harus ditumbuhkembangkan oleh setiap orang yang percaya dan sebagai pengikut Kristus. Kita harus setia dalam segala sesuatu. Misalnya setia melayani Tuhan dan jemaat-Nya, setia kepada pasangan hidup kita, setia kepada sahabat kita dan lain sebagainya.
         Hachi adalah seekor anjing yang dipelihara Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Setiap hari, ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergiannya. Di petang hari, Hachi pun kembali datang ke stasiun untuk menjemput.Tanggal 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi yang tidak mengetahui hal tersebut terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang. Setiap hari, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi selalu setia menunggu kepulangannya di Stasiun Shibuya. Hal ini terus dilakukannya selama kurang lebih 10 tahun. Kisah Hachi mulai diketahui banyak orang sejak dimuat di surat kabar. Bukan hanya itu saja, karena kesetiaanya itu, warga mendirikan patung Hachiko di stasiun Shibuya. Hachiko telah mengajarkan tentang cinta dan kesetiaan tulus yang selalu ingin bersama dengan majikannya. Oleh karena itu, Hachiko pun dikenal sebagai “anjing setia”.
           Setia adalah salah satu hal yang diperlukan dalam suatu hubungan, entah itu hubungan suami istri, pertemanan, pekerjaan, ataupun gereja. Setia tidak hanya kita lakukan pada saat orang lain atau pasangan kita setia dengan kita. Namun kesetiaan hendaknya selalu kita tunjukkan dalam keadaan apa pun. Dalam hal ini, Tuhan Yesus telah menjadi teladan kita. Dia menunjukkan kesetiaan-Nya yang sejati dengan selalu ada bersama kita dan menantikan kita, walaupun terkadang kita sibuk dengan keseharian kita. Dia selalu mengasihi kita, meski kadang kita menduakannya dengan kesenangan kita. Jika kita ingin kebangkitan iman terjadi dalam hidup kita, hasilkanlah buah-buah roh dalam hidup kita. Salah satunya adalah kesetiaan yang sejati, sebuah komitmen untuk selalu bersama dengan pasangan kita, gereja kita, pekerjaan kita, dan teman kita. Selalu tunjukkanlah kesetiaan sejati dari hati yang tulus mengasihi. Saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, KESETIAAN YANG SEJATI adalah KOMITMEN untuk terus bersama yang berasal dari HATI YANG TULUS MENGASIHI. Kesetiaan merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh Allah, dan kepada kita dituntut untuk setia. Maka beberapa pertanyaan ini harus kita jawab yaitu :

1. Sudahkah saudara memiliki kesetiaan yang sejati? Jika jawabnya (Belum) maka apa yang                    menghalangi saudara untuk memiliki kesetiaan yang sejati?
2. Menurut saudara apakah kesetiaan yang sejati itu?
3. Komitmen apa yang Anda buat terhadap pasangan, gereja, pekerjaan, dan teman Anda? 

Maka dari pertanyaan pertenyaan tersebut, saudara dapat mengukur sudah sejauh mana yang kita lakukan dalam hidup kita?  Benarkah kita sudah setia dalam segala hal? selamat merenungkan, Tuhan memberkati kita yang selalu setia kepada-Nya.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Renungan 17 Agustus 2019

                                                                      Merdeka !!!!!!!!!
           Kemerdekaan adalah hak setiap umat, dalam segala hal, itulah berkat yang sangat luar biasa sampai sampai hal berkeyakinan terhadapNya. Kita diberikan ruang sebebas bebasnya oleh Tuhan Sang Penguasa hidup. Baik dalam hal paling kecil sampai hal yang luar biasa yang boleh kita terima, maka itu semua bisa kita maknai salah satu dari anugerahNya yang boleh kita nikmati.
           Namun sayang seribu kali sayang, berkat yang sangat luar biasa itu tidak kita sadari dengan baik, terkadang atau bahkan sering, kita memaksakan kehendak kepada yang lain. Baik itu keinginan begitu juga hak-hak yang lain, bahkan mau mengakui atau tidak dalam hidup kita yang kita tuntut adalah hak kita saja, sedangkan kuajiban kuajiban yang harus kita penuhi justru malah terabaikan sehingga memunculkan masalah yang baru yaitu tentang keseimbangan. Maka disisi lain kita tidak bertanggung jawab terhadap kemerdekaan itu. Marilah kita mengingat bahwa hidup itu bukan individu melainkan berkomunitas, kita ini berbangsa juga bernegara yang membutuhkan sumbang sih pemikiran juga tenaga kita, oleh karena itu sangat disayangkan apabila kita hidup apatis terhadap apa yang ada dihadapan kita. Hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri hidup untuk kelompoknya sendiri tanpa memahami kepada yang lain, kepentingan orang lain begitu juga dalam hal berkeyakinan ada yang harus seperti saya kalau seperti itu tidak benar, bahkan mungkin kita sendiri tidak paham dengan apa itu kebenaran. Jangankan berusaha memahami kehendak Sang Pencipta, bahkan kita sendiri sering memposisikan sebagai sang kuasa. Sehingga keyakinan hanya dipergunakan sebagai pelengkap data diri.
             Oleh karena itu saudara saudara mari pada kesempatan ini saya mengajak supaya kita apabila meyakini suatu keyakinan, yakinilah dengan benar, tuntunan sudah ada, jangan pilih pilih firman sesuai dengan apa yang menurut aku suka, akan tetapi pahamilah bahwa suka atau tidak berjalanlah sesuai dengan rel yang ada yaitu firman Tuhan. Maka kita akan selalu dapat mempergunakan kemerdekaan itu dengan baik dan benar sesuai dengan kehendakNya.
Selamat memeriahkan pesta kemerdekaan yang ke 74, kiranya umur negara yang sudah tidak muda lagi ini akan membimbing rakyat menjadi semakin Dewasa, baik dalam berfikir, bermufakat, bersekutu, berjamaah serta bertoleransi antar sesama. Karena Tuhan menciptakan kita dengan dasar yang sama tidak dibeda bedakan dihadapanNya.

Senin, 27 Mei 2019

INFORMASI KEGIATAN BULAN MEI DAN JUNI 2019

1. Pelantikan Badan Pembantu Majelis Jemaat Jemaat Mojoagung dilaksanakan pada tanggal
    26 Mei 2019  pukul 08.00 dalam Ibadah Minggu
    DAUR 2019 - 2022

2. Kegiatan Rutin setiap Tahun adalah IBADAH  PADANG,
    Pada tahun ini jatuh pada tanggal 30 Mei 2019 dan dilaksanakan di
    WEGO Lamongan berangkat dari Mojoagung pukul 06.30 dan diperkirakan Sampai
     tujuan sekitar pukul 09.00. peserta untuk tahun ini kurang lebih 125 orang.
    kegiatan tersebut juga sebagai tanda dibukanya kegiatan bulan Pelayanan dan Kesaksian

3. Hari Raya UNDHUH - UNDHUH 2019 untuk Jemaat Mojoagung dilaksanakan pada 
    tanggal 16 Juni 2019. untuk itu diharapkan Putra Putra Daerah / Jemaat Mojoagung ikut 
    berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan bersamaan dengan Ibadah Minggu
    pukul 08.00

4. HUT Jemaat Mojoagung yang ke 87 akan dilaksanakan pada tanggal 30 Juni pukul 17.00
    dalam Ibadah khusus dan Ibadahnya dijadikan satu baik induk maupun Pepanthan

Demikian Pemberitahuan kegiatan GKJW Jemaat Mojoagung dalam bulan Mei dan Juni 2019

Rabu, 27 Maret 2019

Mengasihi Tidak Mengenal Batas

Lukas 6 : 27 - 38

          Sabar, sabar terdiri dari 5 suku kata akan tetapi mempunyai arti yang sangat luar biasa kalau kita bisa menjalaninya. Kadang ada orang namanya Sabar akan tetapi dia mudah marah. Padahal kalau kita mau memperhatikan kesabaran ini adalah ajaran dasar dari Tuhan Yesus untuk orang orang yang percaya kepadaNya. Dalam setiap kehidupan kita sering diperhadapkan kepada masalah masalah yang mengundang kita untuk berlaku tidak sabar, bahkan malah membawa kita kepada kemarahan yang tak terhingga. Maka berikutnya ketika kita sudah bisa bersabar yang terjadi dalam perjalanan hidup kita dianjurkan bahkan diajarkan untuk mengasihi. Tuhan Yesus mengajak kepada murid muridNya menjalankan hukum kasih. Kasih yang murah hati, bukan kasih karena kwajiban. Kasih yang murah hati itu akan selalu memberi yang lebih dari pada apa yang seharusnya. Sering kita mengasihi hanya kepada orang yang mengasihi kita, apa bedanya dengan orang orang yang tidak mengenal Kristus, maka yang Yesus inginkan adalah kasihilah musuhmu dan berdoalah untuk mereka yang menganiaya kamu dan membenci kamu. Bahkan di ayat yang lain malah kita diminta untuk memintakan berkat kepada Tuhan bagi mereka yang mengutuk kamu dan berdoa bagi mereka yang telah mencaci maki kamu.
         Sungguh luar biasa ajaran yang tidak pernah ada di dunia ini yang seperti itu, bahkan bukan hanya ajarannya saja yang sulit untuk didapatkan bahkan melalukan juga tidaklah mudah, namun bagi kita si pewaris kerajaan Allah hendaknya itu yang harus kita lakukan, tidak mudah memang namun itu adalah tantangan yang harus kita hadapi bukan kita hindari, inilah salah satu bentuk penyangkalan diri ketika kita memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru salamat. Pilihan ada di tangan kita, Tuhan selalu memberikan kita pilihan walaupun Dia sudah menyediakan yang terbaik bagi kita, akan tetapi yang sering kita ambil, keputusan yang salah karena kita berfikir hal hal yang selalu menguntungkan bagi kita, bukan kehendakMu jadilah tapi kehendakku yang harus terjadi, maka yang kita temui sering salah jalan. Hal kesabaran memang tiada batasnya, sampai sampai Tuhan Yesus mengajarkan barang siapa menampar pipi kirimu maka berikanlah pipimu yang lain, barang siapa mengambil jubahmu biarkan juga ia mengambil bajumu, sanggupkah kita melakukan itu dalam kehidupan kita, atau justru sebaliknya, "kalau yang enak enak mengikut Tuhan itu aku mau, tapi kalau yang susah susah dan tidak menguntungkan bagiku ya maaf" inikah yang kita ambil resikonya? kalau demikian pantaskah kita menerima anugerah yang sudah kita rasakan dan kita nikmati hingga saat ini? Karena bukan setiap orang yang berseru kepadaKu "Tuhan Tuhan" akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (Mat 7:21). Sedangkan yang terjadi dalam kehidupan, kita memilih yang menguntungkan saja, yang nyaman saja, giliran yang susah, penuh resiko, kita tidak mau, maka apa jadinya hidup kita kalau demikian. Tuhan mengasihi kita dengan kasih Agape (kasih yang tidak menuntut balas), hendaknya demikian juga kita sebagai umatNya namun tidaklah demikian bagi kita, jangankan mengasihi sesama tanpa pamrih, sedangkan mengasihi Tuhan saja pasti ada embel embelnya, sering terjadi kita melakukan sesuatu bagi Tuhan (katanya) dengan tujuan menyuap Tuhan agar supaya ketika kita minta selalu diberi(pamrih). Maka kalau demikian mari jauhkan pikiran itu dari benak kita karena yang akan terjadi kita akan merasakan kekecewaan yang luar biasa dan menganggap Dia tidak memperhatikanmu, dan kalau itu terjadi maka kita akan semakin jauh dari Tuhan.
       Kesabaran adalah alat untuk melakukan kasih dalam hidup kita, Memahami kehendak Tuhan dengan penuh kesadaran akan membimbing kita menjadi manusia yang berguna, menjadi pohon yang akan menghasikan buah buah dalam kehidupan. Kemurahan hati yang kita miliki dapat menjadikan kita berjalan seturut dengan kehendak Tuhan, maka dengan bekal yang sudah Tuhan berikan kepada kita kiranya dapat kita gunakan untuk memuliakan Nama-Nya.

Sabtu, 23 Maret 2019

Pertobatan Yang Berkenan

Kisah Para Rasul 8 : 14 - 24

Dalam kehidupan Iman, Rasul Lukas ingin menunjukkan kepada Teofilus bagaimana seharusnya seorang bertobat sehingga pertobatannya berkenan kepada Tuhan. Ada tiga hal yang perlu dilakukan agar pertobatannya menjadi sempurna

i. Percaya kepada Yesus dan dibabtiskan
   Dalam dunia ini firman Tuhan mengatakan "tidak ada yang benar seorangpun tidak"(Rom 3:10)
   Ketika seseorang menginginkan dirinya selamat maka yang harus dilakukan adalah bertobat (metanoia : perubahan pikiran disertai dengan penyesalan dan perubahan perilakui). Ketika seseorang menyadari bawha dirinya orang berdosa, seharusnya ia menyesali akan keberadaannya itu, serta berupaya untuk menanggalkan dosanya. Cara satu satunya penanggalan dosa hanya melalui Yesus Kristus (Kol 2:11). sebagai wujud nyata pertobatan seseorang maka mereka menyerahkan dirinya untuk dibabtiskan (Kis 19:4)

ii. Melepaskan Beban yang merintangi
Setiap orang yang percaya dan menerima Yesus Kristus/ Isa Almasih maka mereka disebut Kristen (mula mula disebut dalam Perjanjian Baru kepada umat Antiokia (Kis 11:26). Kristen yang memiliki arti pengikut Kristus, berusaha menjadi seperti Kristus. Bertobat kata lainnya adalah meninggalkan kehidupan masa lampau.
Simon disini merupakan contoh pertobatan yang buruk, dimana ia menyatakan dirinya percaya kepada Yesus, dan memberi dirinya dibabtis. Namun ternyata pertobatannya, tidaklah sungguh sungguh karena ia belum melepaskan cara dan pola pikir, serta perilaku lamanya. Hal itu dapat dilihat ketikaia sudah percaya tetapi ia tetap berlagak seolah olah ia menjadi seorang yang penting seperti belum percaya, dengan terus dekat dengan Pilipus, ia berfikir bahwa semua keajaiban yang dilakukan oleg para rasul berasal dari suatu mantera hebat sehingga ia ingin memperoleh mantera itu dengan membeli kepada Rasul Petrus dan Yohanes. Simon belum berkenan dihadapan Tuhan karena ia belum sepenuhnya melepaskan kedagingannya, dia belum mengalami perubahan pikiran, dan perilaku. Dia baru menyatakan penyesalan ketika mendapat teguran keras dari para Rasul.

iii. Mentaati Dia
Disisi lain Lukas, menyatakan kepada Teofilus, mengenai contoh pertobatan yang berkenan. Seorang sida sida dari Etiopia, mengabaikan posisinya sebagai Sida sida ia siap beresikountuk kehilangan posisinya dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Berikutnya adalah Saulus, yang kita kenal sebagi Paulus setelah pertobatannya.  Ia berbalik 180 derajat  dari kehidupannya yang sebelumnya mengejar ngejar orang percaya untuk dianiaya, dipenjarakan bahkan dibunuh. Namun setelah adanya pengalaman perjumpaan pribadi dengan Kristus Yesus dalam perjalanan ke Damsyik. Saulus tidak lagi mengejar dan menganiaya orang Kristen, tetapi ia berbalik menjadi penginjil yang mengajak orang bertobat dan percaya serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Ia bertindak sebagai pengajar yang mengajarkan firman Allah dan bagaimana seharusnya orang Kristen hidup sesuai kehendak Allah, serta memuridkan mereka. Paulus dan Sida sida dari Etiopia merupakan seorang murid sejati yang mau menyangkal dirinya, serta mau mengikut Yesus dan memikul salib. Dan mereka mau hidup sungguh sungguh taat dalam melakukan kebenaran dan firman Tuhan, terbukti mereka melakukan memberitakan kasih Yesus serta melakukan pemuridan (Mat 7: 21)

Saudara saudara yang terkasih didalam Tuhan, bagaimana dengan hidup kita dengan saudara saudara, apakah saudara sudah sungguh sungguh bertobat dengan meninggalkan tata cara dan pola pikir serta perilaku sebelum percaya, ataukah seperti lagunya Dian Pisesa (Aku Masih Seperti Yang Dulu) atau bahkan tobat cabe, yang mengatakan tobat karena pedasnya tetapi pada akhirnya kembali mengkonsumsi cabe itu sebagaimana Simon. Kalau masih seperti itu maka bertobatlah dengan sungguh sungguh dan tunjukkan melalui perubahan perilaku kita sehingga nama Tuhan di permuliakan.


Sabtu, 09 Februari 2019

Fokus Pada Panggilan

Lukas 4 : 42 - 44

Seringkali pekerjaan /pelayanan kita tidak mendapatkan hasil yang maksimal, bukan karena kita tidak berjuang serta mengusahakan yang terbaik untuk mengerjakannya tetapi karena tidak fokus. Bagaimana caranya agar kita tetap fokus dalam panggilan pelayanan kita?
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan yaitu :
1. Menjaga persekutuan dengan Allah
            Selama Yesus melayani di dunia dengan segala kesibukan Nya, Dia tidak pernah kehilangan fokus karena Dia menjaganya lewat persekutuannya dengan Bapa. Sekalipun semua waktu-Nya sepertinya habis untuk orang banyak, akan tetapi Dia tetap fokus dalam  memenuhi rencana Bapa bagi dunia ini. Kalau kita ingin tetap fokus pada panggilan hidup kita, maka itu hanya akan bisa terjaga apabila kita membangun persekutuan dengan Allah secara baik. Sebab di sanalah kita akan tahu mana yang terbaik yang harus kita lakukan di antara yang baik yang tersedia. Kita tidak akan tergiur melakukan sesuatu yang bisa membelokkan panggilan dan tujuan hidup kita di dalam Tuhan. Namun dalam pembenaran pemikiran kita yang terjadi adalah kita sering dibelokkan oleh keinginan keinginan duniawi kita yang membawa kepada kesesatan dan membuat kita tidak fokus pada tugas dan pelayanan kita, maka yang terjadi hanyalah sebuah kegagalan dan disusul dengan kegagalan yang lain.
2. Memilih untuk melakukan kehendak Allah
            Ketika orang banyak berusaha untuk menempatkan Yesus sebagai figur yang dielu-elukan, tentu ini sesuatu yang sangat menggiurkan secara manusia, tetapi Yesus lebih memilih untuk melakukan kehendak Bapa dalam hidupnya. Hal inilah yang membuat Yesus fokus pada panggilan hidupnya di tengah-tengah dunia ini. Kalau kita lebih memilih untuk melakukan kehendak Allah daripada kehendak diri kita sendiri, maka kita akan tetap fokus pada panggilan Allah dalam kehidupan kita. Sekalipun kehendak kita itu bukanlah sesuatu yang berdosa tetapi sering hal itu akan mengalihkan perhatian kita kepada hal-hal yang tidak Allah rencanakan dalam kehidupan kita.
3. Melayani Tuhan bukan melayani kegiatan
            Yesus tetap fokus pada tujuan Bapa dalam hidupnya karena Dia selalu mengkaitkan segala kegiatannya dalam bentuk pelayanan. Hal yang sama perlu kita lakukan agar kita tidak menyimpang kepada suatu kegiatan yang tidak semestinya. Apapun yang menjadi panggilan hidup kita di dunia ini, biarlah kita melakukannya sebagai bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan. Dengan demikian kita tidak akan pernah melakukan sesuatu di mana Allah tidak dipermuliakan. Dengan demikian kita akan diarahkan kepada apa yang Tuhan kehendaki.

                Oleh karena itu fokus pada tujuan pelayanan yang benar, yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya dalam hidup kita. Maka apa yang sudah kita lakukan untuk kemuliaan-Nya tidak akan kembali dengan sia-sia. Karya Tuhan yang sudah kita rasakan, jamahan-Nya yang sudah kita nikmati hendaknya orang lain juga dapat merasakan berkat berkat itu melalui kita sebagai umat umat pilihan-Nya. Sebab itulah arahkanlah hati, jiwa dan fikiranmu untuk melayani Tuhan melalui jemaat-Nya dan sesama kita, jangan demi ketenaran dan kemuliaan diri sendiri namun semata mata hanya demi nama Tuhan semakin dipermuliakan dalam hidup kita.

Kamis, 10 Januari 2019

Penatua & Diaken Duar 2019 - 2021

GKJW Jemaat Mojoagung Dalam melaksanakan tugas  pelayanannya telah melaksanakan kegiatan Dauran Penatua dan Diaken Daur 2019 - 2021 sejak bulan September 2018 hingga bulan Nopember 2018, dan pelantikannya dilaksanakan pada 06 Januari 2019.

Adapun Penatau Daur 2019 - 2021 adalah :
Induk :
1. Ey Yuliati
2. Hadi Susanto
3. Hari Purnawan
4. Resmiasih
5. Satiman
6. Sugiartik
7. Suryadi
8. Tri Santoso

Pepanthan :
1 Iswari Na'aman
2. Juli Asmoro Yotam


Diaken Daur 2019 - 2021 adalah :
1. Abednego Prapto Sunarso
2. Budi Wiryawan
3. Cahyadi Hari Kurniawan
4. Sarwiono
5. Sukaesi Dwi Cahyani
6. Tatag Coban Purbo Nugroho
7. Wahyu Hargianto
8. Wiwin Luki Sukristiningsih

Pepanthan :
1. Adi Waluyo
2. Hartutik

Setelah Pelantikan tanggal 06 Januari 2019 dalam Ibadah berikutnya setelah Ibadah dilanjutkan dengan rapat Pleno yang I ditahun 2019, salah satu agendanya adalah pemilihan PHMJ.
Dari pemilihan yang dilaksanakan secara voting, maka tersusun sebagai berikut ;
1. Ketua                                          : Pdt.Priyo Utomo, M.Min
2. Wakil Ketua                                : Satiman
3. Sekretaris 1                                 : Tri Santoso
4. Sekretaris 2                                 : Abednego Prapto Sunarso
5. Bendahara 1                                : Wiwin Luki Sukristiningsih
6. Bendahara 2                                : Resmiasih
7. Pembantu Umum                        : Juli Asmoro Yotam

Agenda berikutnya adalah memilih utusan untuk mengikuti sidang Majelis Daerah Jombang SB :
1. Pdt.Priyo Utomo, M.Min
2. Tri Santoso
3. Wiwin Luki Sukristiningsih
4. Juli Asmoro Yot am

Untuk Pleno berikutnya akan di pilih dan di lantik Bandan Pembantu di Jemaat.

























                   

Kamis, 27 Desember 2018

Yesus Kristus HIkmat Bagi Kita

         Sebagai orang yang beriman dan meyakini bahwa Tuhan Yesus adalah Jalan satu satunya untuk kita dapat menuju Bapa, oleh karena itu sering didalam doa kita, kita diajarkan tidak hanya supaya tidak rakus, tamak dan arogan, akan tetapi lebih dari pada itu, kita diajarkan untuk hidup yang sederhana "Prasojo". Namun dalam prakteknya kehidupan kita apakah kita seperti itu? Tentunya tidak demikan, seperti doa Bapa kami, disana diajarkan supaya kita tidak menjadi orang yang serakah, bukan pendendam, menjadi orang yang suka mengampuni kesalahan orang lain, meminta diajuhkan dari cobaan dan marabahaya, akan tetapi siapa yang menantang bahaya malah kita sendiri yang bermain dengan bahaya itu sendiri dengan berperilaku yang lebih mementingkan kepentingan dan keuntungan diri sendiri dan kelompok sendiri. Sudahkan kita berfikir untuk kebaikan bersama baik dalam pergaulan bermasyarakat maupun dalam berperilaku hidup. Sebagai salah satu ciptaan Tuhan sudahkah kita menjadi sahabat lingkungan? Atau malah kita adalah salah satu bagian dari perusak lingkungan itu sendiri? Sudahkah kita membangun relasi dengan baik, kepada tetangga, masyarakat sekitar, bahkan kepedulian terhadap lingkungan. Kalau dari hal hal ini kita tidak peduli bagaimana kita bisa menempatkan diri ditengah tengah mereka, yang ada justru kita menjadi batu sandungan bagi mereka.
       Oleh karena itu mari kita bangun relasi ini dengan baik, baik dengan sesama manusia maupun sesama ciptaan Tuhan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari rencana Tuhan dalam hidup kita. Yang sering menjadi penghalang bagi kita dalam melayani Tuhan adalah berangkat dari kemauan dan keinginan diri sendiri, berawal dari memikirkan untung dan rugi, sehingga sering ketika berbuat sesuatu yang terjadi kita sering meremehkan hal hal yang sepele, contohnya dalam membuang sampah yang tidak pada tempatnya dengan kata lain membuang sampah dengan sembarangan. Apabila membuangnya di jalan ya mengotori jalan, di parit juga mengotori parit di sungai ya mengotori sungai dan bahkan berdampak pada kebersihan pada lingkungan dan akibatnya akan terjadi polusi, baik polusi tanah, pulusi air maupun polusi udara, akibat yang ditimbulkan juga bau yang tidak sedap, pencemaran sungai, mungkin yang kita lakukan berawal dari kata tidak apa apa (dalam bahasa jawa dari kata kata walah, namun yang terjadi kemudian berkumpulnya berbagai macam walah dan beribu ribu walah inilah yang akan di rasakan dan ditanggung oleh lingkungan baik yang dekat maupun lingkungan yang jauh. Begitu pula dengan penebangan hutan yang liar akibatnya juga akan dirasakan oleh lingkungan juga, tanah longsor, dan banjir.
Oleh karena itu apabila kita sudah mengatakan berhikmat dan berasal dari Tuhan, maka
kita buktikan hikmat yang dari Tuhan itu yang seperti apa, yang bagaimana,
kepedulian, perawatan, hubungan manusia dengan alam, sehingga alampun juga
peduli dengan manusia, maka damai sejahtera yang berassal dari Tuhan bisa dirassakan oleh umat ciptaan yang lain melalui kita.
Ditahun yang akan datang ini marilah kita mulai melayani Tuhan berawal dari ciptaanNya, sehingga tanda yang melekat poda kita yaitu salib betul betul nyata dan dapat dirasakan setiap ciptaan yang dekat dengan kita. Tuhan memberkati kita.